Thursday, October 28, 2010

cinta tak seharusnya memiliki~

Sekarang saya mengutip sebuah tulisan dari seorang aktivis :
Lelaki ini adalah Otak Staretegi Perang “Parit”
Di Madinah seorang Muslimah, telah mengambil hatinya
Bukan sebagai KEKASIH….
Tapi sebagai sebuah PILIHAN..
Pilihan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.
Menikah.
Iya hanya Menikah, jalan itu…
Tapi Madinah adalah tempat asing untuknya…
Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya
Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang….
Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah
berbicara untuknya dalam khithbah…
Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abud Darda’.
”Subhanallaah.. wal hamdulillaah..”, girang Abud Darda’ mendengarnya
Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan.
Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah.
Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.
”Saya adalah Abud Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.
”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.
”Maafkan kami atas keterus terangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman.
Namun jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”
Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar dari pada pelamarnya!
Itu mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati.
Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.
”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abud Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”
Cinta memang tak harus memiliki…
)I(
Lelaki ini adalah Khalifah ke empat, setelah Usman bin Affan…
Dia memandang seorang bocah perempuan
Di pelataran rumah seorang sahabatnya…
‘Aisyah binti Thalhah.
Nama bocah perempuan itu…..
Maka berkelebatlah Kenangan
Tentang sahabatnya itu ….Thalhah
Thalhah lah lelaki yang mengatakan
Pada perang Uhud
“Khudz bidaamii hadzal yauum, hattaa tardhaa…”
“ Ya Allah, ambil darahku hari ini sekehendakMu hingga Engkau ridha.”
Tombak, pedang, dan panah yang menyerpih tubuh dibiarkannya, dipeluknya badan sang Nabi seolah tak rela seujung bulu pun terpapas.
Tapi ia juga yang membuat Arsy Alloh bergetar dengan perkataannya
Maka Alloh menurunkan firmanNya kepada Sang Nabi dalam ayat kelima puluh tiga surat Al Ahzab.
Ini di sebabkan
Ketika Thallhah berbincang dengan ‘Aisyah, isteri sang Nabi, yang masih terhitung sepupunya
Rasulullah datang, dan wajah beliau pias tak suka.
Dengan isyarat, beliau Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam meminta ‘Aisyah masuk ke dalam bilik.
Wajah Thalhah memerah. Ia undur diri bersama gumam dalam hati,
“Beliau melarangku berbincang dengan ‘Aisyah. Tunggu saja, jika beliau telah diwafatkan Allah, takkan kubiarkan orang lain mendahuluiku melamar ‘Aisyah.”
Maka bergetarlah Langit
“Dan apabila kalian meminta suatu hajat kepada isteri Nabi itu, maka mintalah pada mereka dari balik hijab. Demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka. Kalian tiada boleh menyakiti Rasulullah dan tidak boleh menikahi isteri-isterinya sesudah wafatnya selama-lamanya.”
(QS Al Azhab 53)
Ketika ayat itu dibacakan padanya, Thalhah menangis. Ia lalu memerdekakan budaknya, menyumbangkan kesepuluh untanya untuk jalan Allah, dan menunaikan haji dengan berjalan kaki sebagai taubat dari ucapannya.
Kelak, tetap dengan penuh cinta dinamainya putri kecil yang disayanginya dengan asma ‘Aisyah.
‘Aisyah binti Thalhah.
Wanita jelita yang kelak menjadi permata zamannya dengan kecantikan, kecerdasan, dan kecemerlangannya.
Persis seperti ‘Aisyah binti Abu Bakr yang pernah dicintai Thalhah.
Cinta memang tak harus memiliki…
)I(
Lelaki ini adalah sebaik-baiknya Raja
Sepeninggal Khalifah ke empat Ali Bin Abu Thalib
Hatinya, bergetar dan ia tahu
Dia telah Jatuh cinta
Pada seorang Muslimah Sholeha…
Rakyatnya
Tak ada yang istimewa
Pada wanita itu dari segi kecantikannya
Justru itu lah yang membuatnya Jatuh Cinta
Maka dengan kekuasaanya
Ia menikahi wanita itu…
Tapi ia tak tahu
Ia tak pernah bisa
MENIKAHI HATI WANITA ITU……
Wanita itu telah melatakan hatinya
Pada pemuda desanya….
Hingga di keheningan malam
Di 1/3 terakhir
Terdengarlah olehnya
Bait-bait
Puisi dalam lantunan Doa….
Tentang kerinduannya
Pada pemuda desa itu…
Ia sadar
Ini adalah DEKLARASI JIWA istrinya
“Aku Tak Mencintaimu”
Maka dengan berat hati
Ia ceraikanlah istrinya
Lelaki ini adalah Muawiyyah bin Abu Sofyan
Duta pertama dari Rasulullah Saw
Yang datang dan melaporkan keadaan Kepulauan Nusantara
Kepada Nabi Saw
Cinta memang tak harus memiliki…
)I(
Lelaki ini adalah IDEOLOG IKHWANUL MUSLIMIN
Orang no 2 yang sangat berpengaruh setelah Hasan AlBanna, pada Harokah itu..
Ia adalah lelaki Sholeh
Dulu ia pernah jatuh cinta pada gadis desanya
Namun gadis desa itu menikah
3 tahun setelah Lelaki ini pergi belajar ke luar negeri untuk Belajar
hal ini membuat ia sedih
namun ia tak mau larut dalam kesedihannya
kisah cintanya ia mulai dari awal lagi.
Ia kemudian jatuh hati pada Wanita Kairo.
Meskipun tidak terlalu cantik,
Ia tertarik pada gelombang unik yang keluar dari sorot mata wanita tesebut.
Tapi pengakuan bahwa gadis tersebut pernah menjalin cinta dengan laki-laki lain, membuat runtuh cinta lelaki ini
Ia hanya ingin wanita yang benar-benar perawan, baik fisik maupun hatinya
Akhirnya Ia membatalkan menikahi gadis tersebut.
Hal ini membuat Lelaki itu sedih cukup lama….
Sampai kemudian ia putuskan untuk menerima kembali wanita tersebut
Namun apa yang terjadi?? Ditolak.
Inilah yang kemudian membuat lelaki itu menulis roman-roman kesedihannya.
Yang luar biasa adalah, Lelaki Ini sadar dirinya berada dalam alam realitas.
Bukan dalam dunia ideal yang melulu posesif, indah dan ideal.
Kalau cinta tak mau menerimanya, biarlah ia mencari energi lain yang lebih hebat dari cinta. “Allah”,
Energi itulah yang kemudian membawanya ke penjara selama 15 tahun.
Menulis karya monumentalnya Tafsir “Fi Zilaalil Qur’an” (dalam naungan al qur’an).
Dan Syahid di tiang gantungan.
Sendiri!!!
Tidak ada air mata, tidak ada kecupan, tidak ada sentuhan wanita.
Benar-benar sendirian!!
Lelaki ini adalah
SAYYID QUTHB
Lelaki yang Alloh Maha Tahu…
Bahwa dirinya Lebih di HAJATKAN LANGIT…
Daripada wanita bumi….
Cinta memang tak harus memiliki…
Pada Salman…
Pada Thalhah
Pada Mu’awiyyah
Dan
Pada Sayyid Quthb
Kita belajar
Bahwa cinta itu harus di letakan di tangan
Bukan di hati
Karena sebelum deklarasi Akad di Ucapkan
Tak ada Hak pada dirimu….!!!
Tentang Wanita yang engkau cintai itu…..!!
Engkau hanya punya doa dan ikhtiar
Selanjutnya biarlah Alloh yang menentukan akhir kisah kita…..
Salman, Thalhah, Mu’awiyyah, Sayyid Quthb
Adalah LELAKI PENGGENGGAM HUJAN
Tak ada air mata..
Untuk mengenang kegagalan cinta mereka
Yang ada adalah air mata
Dalam doa-doa mereka
Semoga Alloh memberikan gantinya yang lebih baik
Lebih dari segala-galanya..
Di banding wanita itu…..
Sahabat…
Engkau pun Lelaki Penggenggam Hujan
Maka
Jangan Bersedihlah
Adakah anda lelaki lelaki itu??? Kalau anda lelaki lelaki itu,syabas!!!  Mari kita bersama membina diri menjadi lelaki lelaki itu..Lelaki penggenggam hujan!!

Terima kasih

Petang tu, berbuka puasa dengan Nad di café Hs.

Ku suap nasi dengan agak pantas kerana terasa sangat lapar dan ingin segera berlalu dari café HS yang sentiasa dipenuhi ramai brothers and sisters bercampur baur.
Sehari sebelumnya memang tidak sempat menjamah nasi kerana agak sibuk. Ku aniaya perut melayuku kerana mengisinya dengan kerepek2 dan roti sahaja.

Tengah syok menjamah rezeki, nad yang juga agak kelaparan menolak nasinya. Katanya banyak sangat mamak tu bubuh kuah campur. Dia tak gemar dan hilang selera. Kesian kat nad, ku beri lah dia mengambil sedikit nasiku yang tinggal sedikit sahaja bakinya lagi.

Rupanya perutku tidak lagi kenyang. Memang terasa nasi tadi macam makan dua tiga mulut je. mungkin selalunya berbuka bersama akhawat cepat terasa kenyangnya kerana makan beramai ramai dalam dulang. Atau memang kegemaranku makan dalam satu pinggan bersama sahabat2, terutamanya Hijanah (Hehe jazakillah Hijanah) terasa sangat best, berbeza makan bersendiri dengan pinggan menyebabkan perut tu terasa masih banyak ruang kosong. Ku pujuk hati agar bersabar, mungkin ada rezeki lain nanti.

Lepas solat isyak, ke majlis ilmu mingguan kami. Bicara Wanita.
Selepas majlis selesai, ada di sediakan mihun. 
Selalunya ku tidak ambil mihun atau apa2 makanan pun y disediakan dan hanya membiarkan orang lain mengambilnya, (sudah menjadi kakak macam kami ni tidak di galakkan mengambil makanan kerana selalunya akan diberi pada adik2 dan mereka juga boleh bawa pulang kepada kawan2 bagi meraikan kedatangan mereka dengan harapan mereka akan datang lagi) tetapi malam tu terasa sangat lapar.

Jadi ku minta satu bungkus mihun dengan ukhti Aimi. Ukhti Aimi memandangku, mungkin agak pelik kerana aku tidak pernah mengambil makanan sebelum ini. Tapi diberikannya juga. Husnuzon denganku mungkin. (akhawat jarang menghampakan permintaan akhawat dan selalu berhusnu zon) ku lega, dan lekas2 bergegas keluar untuk ke lab, kerana sahabatku Ika menunggu. Serius, terasa sangat gembira dan terasa sungguh TERUK kerana cepat cepat ingin berlalu takut ada adik yang minta.

Maaffff akhawat, saya LAPAR sangat!

Ku raut pintu lab dan sebaik ingin melangkah masuk, ada seorang adik tersenyum girang melihatku. Matanya tertancap ghirah pada bekas di tanganku.

“k.ada, bestnya mihun.. dapat mihun ye tadi?
Saya keluar awal, tidak sempat ambil makanan “
 tersenyum senyum degan penuh ceria sekali dia bercerita
                “ a’ah, awak keluar awal ye, kesiannya, nak mihun ni kan?
                “hehe, ala, kesian kat akak, akak yang ambil. Akak makanlah, takpe. “

Jujurnya, ku menawar dengan rasa berat hati dan dengan harapan dia akan mengatakan dia saja bertanya dan sudah kenyang.

Nyata, jawapannya tidak ada unsur yang meyakinku bahawa dia sudah kenyang dan kelihatannya dia juga lapar.
Ku tetap beri dan dia menerima dengan sangat gembira.

Ku pasrah dan redha. Biar perutku sangat terasa lapar, tetapi ku pujuk hatiku sekali lagi, mihun itu bukan rezekiku malam ni.
Pulang ke bilik, sudah dekat ke angka 12. Ingin terus mengecapi nikmat tidur, kerana perut kelaparan dan badan keletihan benar.

Tiba-tiba, teringat ada sesuatu yang ingin diberi kepada k.isma. dalam mamai terhuyung hayang, kaki melangkah ke tingkat 4.
Sebaik masuk , seperti biasa k.isma menyambutku dengan penuh baik.
Terus disuakan mihun yang sangat sedap. Kelihatan ada udang besar besar, sotong , ayam penuh sebagai lauk.

berMIMPI kah diri ini wahai Tuhan?

Makcik guard Safiyyah,k.ni yang beri padanya. K.isma minta ku habiskan mihun yang hanya sedikit di jamah itu, kerna katanya sudah kenyang.

Oh Tuhan, menangis ku terharu.

Direct Kau menegur sikap jahiliahku.

Kerna redha akhirnya, Allah beri ganti yang jauh lebih hebat.

Mihun yang ku beri pada adik tu, hanya mihun kosong. Kosong tanpa lauk. Jika ada pun hanya sedikit sahaja, buat di kata ada isi.

Mihun air tangan k.ni ternyata sangat sedap. Air tangan berkat kasih sayang.

Oh Allah, sungguh besar ku rasa nikmat kasih-Mu padaku tika itu.  Berkali kali ku mengucap syukur.

TERIMA KASIH ALLAH.
                

Sunday, September 26, 2010

Membangun Kebesaran Jiwa

Assalamualaikum ikhwah dan akhawat sekalian,

Jika seorang pejuang kehilangan misi perjuangannya maka boleh jadi ia akan berubah wajah menjadi seorang yang kecundang.

Sebaliknya jika seorang yang kecundang meluruskan orientasinya maka dia akan menjadi pejuang.


Layak atau tidak seseorang memiliki nama besar sangat tergantung kepada sebesar mana dan seagung apa misi yang disandangnya.


Dari sini barulah kita akan mengerti kenapa Allah swt menjadikan kita khalifah dengan misi besar perubahan kerana Allah swt menginginkan kita menjadi besar.


Semua orang bercita-cita menjadi orang besar namun tidak semua pemilik cita-cita mampu mewujudkannya.


Hidup tanpa misi sekalipun tidak akan luput dari rintangan dan ketidakmampuan menghadapi rintangan akan menghilangkan kewujudan diri.


Sedar atau tidak, seseorang itu dalam kehidupannya amat bergantung kepada kemampuan diri menghadapi rintangan.


Sepanjang perjalanan kehidupan, pembangun dan penghancur akan sentiasa ada sebagai penguji siapa yang terbaik di antara kita.


Perjalanan hidup dengan rintangan besar, terutamanya bagi para pejuang boleh membuatkan :


Dirinya menjadi bingung.

Segala kekuatannya meredup.

Pandangannya menjadi kabur.

Segala cita-cita besarnya boleh hancur.

Nuraninya sebagai pengendali diri semakin mengendur.

Orientasi hidupnya boleh meluntur.

Itu semua adalah kerana jiwa memang memiliki potensi ke arah kejahatan dan kekufuran.

Suatu ungkapan di dalam sebuah hadis mengatakan “Seorang boleh jadi di pagi hari beriman tapi petang hari kufur atau petang hari beriman dan pagi hari kufur” menunjukkan betapa goncangan hidup memang dahsyat dan luar biasa.


Kesedaran diri membawa misi besar membuatkan para pejuang sedar bahwa mereka memerlukan modal yang besar.


Namun modal itu :


Bukanlah nasab kerana nasab telah membuatkan orang Yahudi yang besar kepala itu terlaknat.

Bukan pula kuasa kerana justeru dengan kuasalah Fir’aun menjadi porak poranda.

Bukan juga dengan harta kerana dengan hartalah Qarun menjadi hina.

Kebesaran jiwa sebelum nasab, kuasa dan hartalah yang akan menjadi asas kukuh komitmen jiwa.


Kebesaran hanyalah milik para penguasa jiwa kerana perubahan dalam skala individu atau masyarakat tidak akan terserlah tanpa merubah keinginan jiwa.


“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu bangsa tanpa bangsa tersebut merubah apa yang ada dalam jiwa-jiwa mereka“.


Jiwa adalah tempat pertarungan kepentingan antara :


Dunia yang fana

dan


Akhirat yang kekal.


Jiwa yang lemah akan terjajah oleh dunia dan akan meluncur ke lembah kehinaan, sementara jiwa yang kuat akan di dominasi oleh akhirat hingga terbang ke angkasa kemuliaan.


Menghadapi masyarakat yang “mati” boleh menyebabkan sebahagian orang larut atau kecewa. Namun bagi pemilik jiwa besar, ini medan pahala yang akan menghantarkan mereka kepada kebesaran.


Melihat kenyataan masyarakat Quraish dalam kesesatan yang nyata, Rasulullah saw mempersiapkan diri membangun jiwa dengan uzlah.


Khalwat dengan kesungguhan mampu membebaskan jiwa dari :


Kesombongan.

Ujub.

Dengki.

Riya’.

Cinta dunia.


sehingga kekotoran dunia akan hilang dari hati dan jiwa ini hanya cinta pada kekekalan Ilahi.


Kecintaan kepada Allah dan hari akhirat sebagai mata air pengorbanan dan jihad akan lahir bersama bersihnya jiwa.
Manakala buah dari uzlah adalah :


Rasa ringan membawa beban.

Menganggap mudah setiap ujian.

Tidak silau dengan gemerlapan dunia.

Gelora juang yang tidak kenal padam.


Menjaga stamina, meluruskan orientasi dan menambah tenaga dalam perjuangan bukanlah perkara yang mudah. Goncangan perjalanan dengan kecuraman yang tidak terfikir akan menghalang setiap saat.


Bagi mereka yang memahami tabiat kehidupan pejuang, bekalan perjalanan bukanlah hanya di awal akan tetapi justeru di tengah-tengah malah menjelang saat akhir, mestilah semakin digandakan.


Kemenangan dan ujian sering menjadi samar ketika bekalan berkurangan. Boleh jadi ujian kemewahan dianggap sebagai kemenangan hingga ianya sering memperdayakan dan melupakan pemilik jiwa.


Setiap pemilik jiwa mestilah memahami betul-betul tentang keperluan jiwa agar tetap berstamina.


ibadah asasi dihadirkan dan dirancang untuk menghadapi permasaalahan yang besar.


Solat, puasa, zakat dan haji bukanlah agenda rutin dengan segala kekosongannya, tetapi ianya adalah ruh yang menghidupkan.

Generator iman yang membuatkan daya dentumannya semakin besar dan tenaganya yang tidak pernah padam.

Dalam menghadapi kegelapan kubur, qiyamullail menjadi penerang manakala dalam menghadapi panasnya masyhar, puasa menjadi penyelamat.

Goncangan akhirat yang dahsyat selesai dengan ibadah asasi dan ini bererti masaalah yang jauh lebih kecil akan mampu selesai dengannya.


Ketika pendukung dakwah, Khadijah dan Abu Talib telah tiada, ada kesedihan yang mendalam pada diri Rasulullah saw. Tekanan orang kafir terhadap beliau dan dakwah semakin menggila. Isra’ an Mi’raj dengan buah solat menjadi jalan penyelesaian ketika beratnya bebanan dan tekanan.


Adakah Ramadhan yang baru sahaja kita lalui sebagai media penyuci jiwa sudah menetapkan janji atau ianya hanya upacara yang kosong tanpa erti?


Tidak mungkin rasanya Ramadhan dikurniakan jika ianya hanya menjadi beban.


Untuk apakah Ramadhan dipertahankan sebagai warisan umat-umat sebelum Rasulullah saw hingga kepada kita pada hari ini kalau ianya tidak membangunkan jiwa?


Sebenarnya, semua ibadah asasi dengan seluruh dimensi dan maknanya mampu menguatkan gelora iman dalam jiwa hingga :


Daya juang kita semakin kencang.

Semangat makin membara.

Orientasi akhirat makin menguat.


Yang menjadi persoalannya apakah semua itu sudah berlaku atau apakah sebaliknya yang kita dapati? Nauzubillah.


Kegagalan Ramadhan bukanlah hanya berlaku kepada masyarakat awam kerana ungkapan : “Berapa ramai orang yang berpuasa tapi tidak berpuasa kecuali lapar dan haus” tidak dikhususkan kepada orang awam.


Boleh jadi aktivis dakwah yang banyak dalil semakin pandai “berdalil” daripada beramal. Ini boleh berlaku kerana ianya tidak menutup kemungkinan bahwa seorang aktivis dakwah merasakan bahwa syurga ada dalam genggamannya.


Perasaan lebih mampu, lebih pandai, lebih tahu, lebih berpengalaman sering membuatkan orang terlena.

“Katakanlah : “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Iaitu orang yang telah sia-sia amalannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat dengan sebaik-baiknya” (QS Al Kahfi : 103-104)


Bersikap jujurlah terhadap diri kita :


Apakah ada kerinduan yang mendalam ketika Ramadhan akan tiba hingga kita mempersiapkannya dengan bersungguh-sungguh dan optimal?

Adakah kita menjadi sedar bahwa Ramadhan datang ketika dia sudah datang?

Boleh jadi strategi dan sasarannyapun tidak dirancangkan sehingga Ramadhan mengalir sebagai sebuah kebiasaan. Tidak ada yang istimewa dalam agenda hariannya di mana Ramadhan atau tidak, semuanya adalah sama sahaja.


Boleh jadi sebahagian orang :


Lebih suka menghitung agenda ceramah daripada agenda tilawah.

Perhatiannya tentang baju dunia lebih besar daripada baju taqwa.

Perniagaan dengan keuntungan sedikit itu lebih diutamakan dibandingkan perniagaan dengan Allah yang menjanjikan keuntungan berlipat kali ganda.

Dominasi fikirannya untuk pulang ke kampung dunia lebih memenuhi kepala daripada pulang ke kampung akhirat.

Memiliki kereta mewah lebih menggembirakan dan membahagiakan hati daripada kemewahan syurga firdaus.

Mungkinkah Ramadhan yang telah menjadikan orang terdahulu besar akan membesarkan umat hari ini jika Ramadhan hanya dianggap biasa?

Mungkinkah orang seperti ini memiliki kebesaran jiwa?

Sanggupkah mereka menghadapi goncangan mihnah?


Bolehkah mereka selamat dari godaan dunia sementara di bulan yang sepatutnya ia melepaskan dunia namun cintanya pada dunia semakin bertambah?


Kejayaan Ramadhan sangat bergantung kepada sejauh mana ia mampu memberi sumbangan Imaniah yang akan memberikan kematangan jiwa dan kemanfaatan besar bagi diri dan umat.

Di antaran kesan-kesan besarnya adalah :

Kecintaannya kepada akhirat semakin menguat.

Semangatnya untuk melakukan perubahan semakin menjadi kerana kuasa kini ada dalam dirinya.

Dakwah sebagai kerja utamanya tidak akan ditinggalkan kerana meninggalkan pekerjaan yang mulia bererti kehinaan.

Keinginannya untuk membuktikan diri sebagai penyelesai masaalah umat tidak pernah tergadai oleh gemerlapan dunia.

Teriakan lantang : “Kami pendakwah sebelum segala sesuatu” semakin hari semakin lantang kerana hari inilah saatnya membuktikan komitmen dakwah.

Inilah tanda kematangan jiwa, iaitu kekukuhan hidayah dalam hati sebagaimana sabda Rasulullah saw suatu ketika beliau ditanya tentang ayat Allah swt :

”Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan Hidayah maka Allah lapangkan dadanya untuk menerima Islam”


Kemudian beliau ditanya apakah yang dimaksudkan dengan “Asy-syarhu”.

Baginda mengatakan :

“Dia adalah Nur atau cahaya yang bila masuk ke dalam hati maka akan membuatkan hati lapang dan luas“.

Kemudian beliau ditanya adakah tanda-tandanya?

Baginda menjawab ada :

”Menjauhkan diri dari kehidupan tipu daya, bersegera kepada kampung keabadian dan mempersiapkan kematian sebelum kedatangannya”



Ya Allah, kurniakanlah kebesaran jiwa kepada kami sehingga kami mampu menghadapi segala rintangan dalam kehidupan dunia dengan jayanya. Jadikanlah puasa Ramadhan yang baru kami lalui sebagai pencetus gelora iman di dalam jiwa kami yang akan memantapkan lagi semangat, orientasi dan daya juang kami sehingga mampu memartabatkan DeenMu di muka bumi ini.


Ameen Ya Rabbal Alameen

Thursday, September 16, 2010

Aidilfitri 1431 H

selesai sudah segala galanya.
Ramadhan berlalu sudah.
ada cita ramdhan 1431 H yang tidak tertunai olehku..

Aidilfitri 1431 H di sambut dengan sedih dan gembira.
banyak cerita terakam dalam diary hati.
moga Allah terus mematangkan diriku dan orang-orang kesayanganku.
maafkan atas salah silap diri, dan terima kasih buat semua. terutama ABAH dan UMI.

ABAH...
semakin hari ku lihat abah, semakin rasa sebak. abah sudah semakin berusia.
again, terima kasih menjagaku hingga ke hari ini.

UMI..
mungkin umi yang paling menyayangiku di dunia ini.
maafkanlah diri ini,kerna tidak menjadi anak yang sebaik baiknya buat umi.
moga Allah merahmati umi dunia dan akhirat.
terima kasih penuhi semua impian raya Ada.. ( make sate n etc.., sian a.je bakar sate sorang2 bak kata k.yaya ^-^ )
melihat umi, buat Ada risau, masihkah ada peluang kita beraya bersama lagi d tahun tahun mendatang...?
ada tahu, umi sedih.
Ada lebih lebih lagi sedih, kerna tidak dpt menyelami hati mu sepenuhnya. hati seorang ibu yang sangat menyayangi!


kpd kakak iparku, k.yaya :
terima kasih kerana memujuk diri ini d hari raya ke 3 hari tu.
pujukan itu sangat ku dambakan.
k.yaya adalah satu anugerah dari Allah untuk Ada dan kami.
teruslah bersama cinta k.yaya untuk a.je dan aqila si permata hati.
hadirmu anugerah berharga buat kami!

kpd kak za :
terima kasih kerna menjadi isteri yang baik buat abang sulung kecintaanku. a.din !
k.za adalah kakak ipar yang di damba!
semoga Allah terus melimpahkan rahmat hidayah buat kita semua.

untuk semua abang2, kakak2 ku, adikku,
maafkanlah diri ini.
terima kasih
dan doakanlah Ada selalu.

Raya yang paling bermakna dalam hidupku 1431 H!
Terima kasih ya Allah~

sepupu2ku ramai yang bertanya ahli keluargaku,kenapa Ada semakin pendiam..

jawapannya,
hati ini terasa semakin berat dengan banyak amanah yang tidak dapt disempurnakan dengan baik.

hati ini terasa malu dengan kelemahan diri.
hati ini terasa sedih dengan apa yang menimpa dunia hari ini.

hati ini rasa menyampah dengan kelemahan yang wujud dlm diri!

doakanlah saya agar terus dpt menikmati kenikmatan iman.

orang beriman itu, sungguh orang yang tenang jiwa dan bersih raut wajahnya.

sayangi kanak-kanak kerna mereka adalah masa silam kita,
hormati orang tua kerna mereka adalah masa hadapan kita.

Life's good, no matter what :)

salam syawal ^-^

Sunday, August 15, 2010

RABIUL AWAL 0010 HIJRAH, & RAMADHAN 1431H

RABIUL AWAL 0010 HIJRAH,

Hari itu suasana Kota Madinahtul Munawarah, kota cahaya sang pencinta menjadi tegang... ...
keheningan yang berat itu benar- benar menyesakkan dada...
sehingga setiap tarikan nafas bagaikan udara kesat yang mendera jiwa...pada terbit mentari yang pilu, debu-debu pasir yang berterbangan memberikan suasana terik terasa bertambah perit....

Dari kamar itu...di atas pangkuan Aishahal-Humairah...
ruh mulia yang dikasihi Allah...akhirnya terbang pergi menuju kepada Tuhannya....

menyempurnakan tugas sebagai utusan Allah....
penuh ketenangan...
penuh kemenangan....
Dan.....
para sahabat tidak terdaya lagi membendung kesedihan....
yang menyelubungi jiwa.....
yang terlalu cintanya kepada Kekasih Allah...
yang terlalu rindunya akan setiap pertemuan dengan kekasih Allah...

Ali terduduk kehibaan.....

Uthman bagai anak kecil yang kebingungan didera perpisahan....

Abu Bakar...memeluk erat tubuh kaku baginda Rasul....

Kelu lidah Bilal untuk melaungkan azan....

Sehingga Umar....berteriak keras..memecah kesunyian...
"Sesiapa yang mengatakan Muhammad sudah wafat..akan kupukuldirinya....
Demi Allah....Muhammad pasti akan kembali...." ...
dia terus-menerus berteriak...
dengan mata merah berkaca-kaca. .
mundar-mandir di luar kamar mulia itu....
menghunus pedang...
aksi yang menambahkan sebak bagi hati-hati yang sedang merundung kehilangan cahaya.....

Sehingga...

"Duduklah hai Umar...
tenangkan dirimu..."...Lalu dengan penuh wibawa Abu Bakar menyambung bicara...

"Barangsiapa menyembah Muhammad ,maka sesungguhnya Muhammad telah wafat..
tapi barangsiapa menyembah Allah,sesungguhnya Allah itu kekal....!!!
"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul.Apakah jika dia mati atau terbunuh kalian akan berpatah balik ke belakang?Dan barangsiapa yang berbalik ke belakang,maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun. DanAllah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur"(Ali-Imran: 144)

Umar jatuh terduduk...
berdenting pedang jatuh dari gengaman....
dengan linangan air mata...
dituruti satu persatu ayat yang diucapkan oleh Abu Bakar....

kemudian para sahabat yang lain turut membaca danmengulang-ngulang ayat tersebut..
seolah- olah ia menjadi penawar mujarab kepada luka yang ditinggalkan oleh pemergian baginda Rasul....

Bumi Madinah bermuram durja...
dan ia adalah tempoh kabung yang maha lama....
Bilal meminta izin untuk membawa diri jauh dari Kota Cahaya...
alasannya kerana tidak tertahan menanggung kerinduan...
setiap jengkal tanah kota itu memberi kenangan abadi bersama Rasulullah...

sehingga ketika Umar menjadi Khalifah...diutusnya Bilal agar segera kembali lagi ke Madinah....

"Pulanglah sahabatku Bilal...
jasad baginda pasti merindui lantunan suaramu melaungkan azan...
dan kami juga tidak tertahan dengan siksaan kenangan itu...
pasti dikau masih ingat...
bagaimana ketika baginda Ar-Rasul keletihan dengan tugasan dakwah dan jihad....
lantas Yang Mulia..akan meminta darimu...
Hai Bilal..rehatkan lah kami dengan solat...
dan waktu solat itulah benar-benar memberi kerehatan sempurna bagi tubuh lelah baginda..."

Berderai air mata Bilal membaca warkah dari teman terbaiknya itu.....
lantas segera langkah diatur menuju kembali ke Kota Cahaya...

Penduduk Madinah gempar...
suara Bilal bergema gagah memenuhi ke segenap ruang Kota Madinah...
suara yang mengembalikan nostalgia ketika bersama baginda tercinta...
penduduk berduyun-duyun menuju ke arah datangnya suara....

namun suara itu tidak bertahan lama....
sebaik tiba di kalimah ... 'Waasyahaduanna muhammadar rasululluah....'
Bilal terhenti panjang.................
dia menoleh kepada Umar...
dan perlahan-lahan berkata...
"Maaf..aku tak berdaya......."
Dan Umar tertunduk memandang ke bumi....
kerana dia juga sangat mengerti akan bahasa cinta yang tak mungkin terungkap dengan kata-kata......

RAMADHAN 1431H

..Ya Allah, masih adakah lagi kecintaan seperti itu untuk KekasihMu dalam hati ummat islam pada abad ini....

Terlalu jauh kita dipisahkan oleh rentang waktu yang luas ..
Ya Rasululluah....dan di celah-celah jatuh bangunnya peradaban manusia....
kami tanpa sedar merelakan..
keasyikkan duniawi bertamu di hati sehingga ia menjadi kecintaan y digila-gilakan manusia sejagat...

Kita memberi alasan..bahawa dunia realiti adalah dunia yang berhajat kepada kemilauan  material....
sedang kita lupa bahawa itu semua adalah ilusi...
kerana pilihan untuk bagaimana kita mendefinisikan hidup ini adalah ditentukan oleh kita sendiri...

Hari ini...Ramadhan datang lagi....

ia telah datang sebanyak 1431 kali semenjak diturunkan oleh titah Ilahi...
ia seperti hamba yang maha taat..
sentiasasetia mengunjungi. ..
seolah- olah  sebagai wakil pengganti daripada Nabi untuk menjaga ummat ini..
dengan pintu rahmat..dan keampunan yang mencurah-curah...
lambang kasih sayang yang tidak pernah berbelah bahagi.........
Bahagialah bagi jiwa yang mampu merasai sapaan cinta Nabi di sebalik kehangatanmentari....
Merdekalah bagi hati yang sepenuhnya menyerah ke ribaanIlahi..
di waktu sepi malam hari...
Dan berjayalah bagi mereka yangmemasuki madrasah Ramadhan ini...dengan misi untuk menjadi hamba Rabbani....

Ya Allah...
Rahmatilah setiap dari kami dengan keikhlasan untuk benar-benar mentaatiMu dengan sebenar-benar ketaatan...

dan sampaikanlah salam kerinduan kami kepada Baginda Mulia...Muhammad saw....Allahumma Amin...

ukhti Rokiah,
5.31pm
Sg Chin-Chin,Gombak

Tuesday, August 10, 2010

akhawat sejati dilihat Tuhannya

Duhai akhwat idaman, dimanakah kau kini berada? Aku heran, mengapa kini aku terlalu sering menemukanmu dimana-mana, apakah kau tak lagi menjadi idaman para pengidam kesucian, tak lagi special, bak bidadari syurga yang hadir di bumi, tak pernah tersentuh jin dan manusia.

Tak kubayang, akhwatku hilang, tak lekang, dimakan zaman yang garang. Dulu kau tak terlihat, tapi aku tak perlu mencari-cari dirimu. Karena aku yakin kau ada, seperti keyakinanku beriman kepada yang ghoib. Semakin ghoib, semakin indah, semakin beriman. Wuih. Subahanallah.

Tapi kini kau tak lagi ghoib, kau begitu menyebar, kau begitu visual, kau begitu petah, sehingga justru aku kehilanganmu di antara kerumunanmu.

Terlihat tapi tak terlihat, tak terlihat tapi terlihat.

Duhai akhwatku, yang cantik menawan iman. Ketahuilah bahwa semakin ghoib dirimu maka semakin besar energi dirimu, sehingga semakin besar kualiti keakhwatanmu, maka semakin aku merindukanmu.
Kami menyayangimu. Sayang sekali jika kau tak menyayangi dirimu sendiri lagi; dalam kekhawatiranmu yang berlebihan pada Tuhan.

Ku tahu kau berhijab dalam hizibmu. Tapi mengapa harus kau lupakan inti perjuanganmu, apakah karena hizibmu tidak lagi tegas padamu. Apakah identitimu harus bergantung pada identiti hizibmu yang mulai teragu?

Ku yakin, kau tahu bahwa kau bagai perhiasan di mata ikhwan atau kawan. Dan karakter dari perhiasan adalah butuhnya sebuah atau banyak perhatian. Yang memperhatikan nikmat, yang diperhatikan bahagia. Dan biasanya perhiasan eksklusif berkarakter : diam, tersembunyi, dijaga ketat, personal & privacy, dan hanya orang-orang yang sudah menunaikan akad “jual beli” yang boleh memakainya. Kecuali perhiasan murahan, tak perlu akad spesial pun sudah bisa dipakai siapapun …. lalu menjadi manusia terbuang…
na’udzubillahi min dzalik.

Duhai akhwat budiman kekasih ikhwan beriman, perhatikanlah bahwa kau adalah perhiasan terindah. Bisakah kau bayangkan, bahwa perhiasan itu “diam”nya saja sudah indah dan menggoda. Maka apa yang terjadi jika engkau pun bergerak – kesana kemari- sehingga mata ikhwan memandangmu, sengaja tidak sengaja, sebab syaitan itu cerdas dan bebas. Sedangkan ikhwan itu cerdas tapi terbatas. Karena ikhwan itu terbatas, maka kau harus membatasi diri dari pandangannya, agar syaitan usahanya pun terbatas menggoda manusia beriman, akhwat dan ikhwan.

Kuharap kau lebih banyak diam yang penuh gerakan, daripada gerakan yang membuat ikhwan terdiam. fahamkah maksudku? Kau begitu indah untuk tidak diperhatikan, perhiasan itu begitu banyak yang memperhatikan, kadang saling bersaing antara satu perhaiasan dengan perhiasan lainnya, bersaing untuk diperhatikan… tentu saja karena adanya perhatian. Perhatian hadir karena adanya sumber perhatian dan adanya yang memperhatikan.

Fokus dakwah pun kadang berubah, bahasan bab menikah dan poligami lebih menjadi perhatian daripada bagaimana cara memperjuangkan dakwah ini, dan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah, Ilahi Robbi?

Duhai akhwat, kau bukan syahwat; ku tak menyalahkanmu, tapi marilah mulai hari ini sama-sama kita mengambil porsi yang tidak melampaui suci. Sebab akhwat itu wanita, dan wanita itu makhluk indah sejati yang penuh perasaan, maka perlu diberikan banyak batasan. Agar perasaannya tidak meluap dan tumpah di sembarang nyawa. Jika satu atau dua batasan sudah mulai dianggap tak membatasi, maka berkhawatir dirilah jika engkau kesulitan mengontrol perasaanmu yang agung itu….

Wahai akhwat sejati, bukanlah karena cantikmu engkau diperhatikan, tapi karena diperhatikanlah engkau menjadi cantik. Berterimakasihlah kepada orang-orang yang memperhatikanmu, dan bersyukurlah kepada Allah agar DIA tetap memperhatikanmu. Kalau Allah yang memperhatikanmu, maka para ikhwan beriman pun insya Allah tak sungkan tuk memperhatikanmu. Tapi kalau perhatian manusia yang engkau kejar, maka kemanakah kau tempatkan perhatian Tuhanmu, dari hatimu yang agung, wahai calon ibu, wanita yang paling perhatian….dan butuh perhatian. Harus diperhatikan.

Wallahu alam

Sunday, August 8, 2010

tidak harus terus begini...

Kadang-kadang otak buntu, tidak dapat memberi jawapan kepada setiap teka teki yang datang. Fikiran di luar kawalan. Hati mulai memberontak ingin berehat dari jalan para pejuang. Letih! Kerja bertubi-tubi datang, tanpa sempat memohon di tangguhkan, ia datang lagi dan terus bertambah dari hari kehari. Karenah manusia bermacam-macam ragam, merajuk perlu di pujuk, lemah harus dikuatkan, menangis patut didiamkan, salah wajib dinasihatkan, yang enggan teruskan berdampingan. Masalah umat juga jadi sebahagian tumpuan, apa khabar umat? Apa masalah mereka? Apa tugas untuk bantu mereka? Wah! Kerja apa ini? Satu dunia harus diperhatikan. Perdana menteri juga tidak sepening ini. Meski sang menteri letih, tidak akan sama dengan keletihan yang dia alami. Letih mereka di hias permata duniawi, di hampar karpet merah penyanjung diri, dihidang santapan memenuhi setiap inci meja segi, di ubati dengan wang memenuhi poket sendiri..


Tapi dia? Apa yang dia dapat? Berkorban di jalan penuh onak, di hamparkan karpet penuh duri, dihias dengan cacian mereka yang buta dan tuli, ikat perut, poket kosong, penat, perlu pandai kawal emosi dan terkadang harus faham diri orang lebih.. dia mengeluh lagi..

“PENAAAAAAAAAATTTT! !!! AKU INGIN REHAT!! WAHAI SAHABAT CUKUPLAH BERIKAN AKU TUGAS! MENGAPA HARUS AKU YANG AJAK ORANG, MENGAPA HARUS AKU YANG BUAT LAPORAN? MENGAPA HARUS AKU YANG SEDIAKAN ITU DAN INI..AKU SUDAH TIDAK LARAT!”



Dia menangis dalam diam. Teresak dalam kesepian. Terlalu letih tubuh kecilnya menanggung setiap bebanan ini. Tidak fahamkah mereka dengan kepenatan ku ini? Wahai Allah, mengapa aku yang KAU pilih?? Dia menangis dan terus menangis. kepadaNYA di bisikkan rintihan,memohon kekuatan “ ya Allah tunjukkan aku..bimbinglah. .dan sedarkanlah aku..penyakit futur menimpa iman ku..” sangat sakit rasanya menghadapi masa kefuturan, kondisi iman menurun.. tatkala hati mengatakan ini dosa, jasad tidak mampu berbuat apa-apa. Ketika iman membisikkan ini pahala, maka nafsu memalaskan segala tindakan! Sangat perit suasana itu. Namun dia cepat tersedar, semia ini tidak haru dilayan! Bukankah cita-citanya membangunkan umat yang sedang lena, membakar semangat pemuda habis lencun disimbah air kencing hina dunia..



“AKU HARUS TERUS BERTAHAN! INI SEMUA UJIAN DARI ALLAH. MENGAPA AKU HARUS MALAS, BUKANKAH INI JALAN PARA NABI-NABI KU. BERUNTUNGNYA DIRI, ALLAH MEMBERI ANUGERAH INI. LETIH YANG MENGUNDANG PAHALA KEKAL ABADI”



Jadi apa sebenarnya yang memenatkan? Apakah bosan dengan hidayah Allah? Apakah rasa hebat hingga mampu berdiri sendiri tanpa bantuan Allah? Apakah sudah cuka kaya untuk membalas segala nikmat Allah? Tidak malukah untuk meninggalkan pekerjaan membantu agama Allah. Hentikanlah mengatakan penat, kerna Rasulullah juga seorang suami, seorang ayah, ketua Negara, hakim, penyampai risalah, mana mungkin tidak merasa kepenatan. Iman dan cinta pada syurga menjadikan diri Baginda hebat..



Wahai diri yang letih dalam brdakwah, ini bukan tempat rehat kita..kita ada tempat rehat yang lebih nyaman di syurga nanti..letihkan diri di dunia untuk kerehatan abadi bersama Rasulullah.. pesan motivasi dari Allah, Tuhan kita “BERSABARLAH DAN KUATKANLAH KESABARANMU”



Cek iman mu, kerana lemahnya iman punca segala kemalasan, mudahnya syaitan akan membisikkan kata-kata tajam yang bakal merobek segala keazaman. Perhatikan perlakuanmu. Kerna andai diri bersalut dosa, pasti hati bersalut kotoran hitam, hingga lupa hati pada misi besar fizikalnya, lalai hati dari zikirnya pada sang pencipta, lupa hati bahawa ruh ini akan kembali pada Tuhannya..



Tuhan Kuatkan kami dijalan para Rasulmu..amin. .

-ukhti Ramlah-